Review Catatan Juang, Fiersa Besari

February 17, 2018
Review Buku Catatan Juang


"Seseorang yang akan menemani setiap langkahmu dengan satu kebaikan kecil setiap harinya," tertanda Juang.

Sampul belakang buku "Catatan Juang" karya Fiersa Besari, berwarna merah didesain bak buku tua. Kita diajak menjelajah tiap catatan yang dituliskan oleh Juang dalam tiap lembar bukunya, melalui perantara sang tokoh utama yaitu Suar.
Fiersa Besari | "Catatan Juang" | mediakita | 2017


Sekilas Sinopsis
Suar, sang tokoh utama dalam buku ini, adalah seorang karyawan swasta yang melupakan mimpinya hingga menemukan buku sampul merah ini. Buku yang ia sebut "obat kuat" berisi goresan tinta seorang pria bernama Juang di tiap lembar buku, membuka cakrawala pengetahuan, dan menemani tiap langkah kehidupan Suar. Catatannya sarat akan unsur humanisme, nasionalisme, mimpi, hingga cinta.

Buku ini memiliki empat bagian, dan tiap bagiannya memiliki satu atap yang sama. Pendeskripsian kata serta pemikiran Fiersa Besari sebagai "Juang" sang pemilik buku dituturkan dengan lugas dan apa adanya.

Nah, kira-kira inilah beberapa poin berdasarkan empat bagian di dalamnya, yang menjadikan buku ini direkomendasikan untuk dibaca! Hati-hati sedikit spoiler ya.


1. Menarik Diri dari Realita demi Sebuah Cita

Melewati tahun-tahun gemilang di sebuah perusahaan, namun kemudian masa berbalik menjadi suram dikarenakan kinerja yang menurun drastis. Ini adalah awal kisah cerita Suar yang membuka bagian pertama buku. Demi mencari nafkah dan melihat realita kehidupan, ia melupakan mimpinya. Suar menekan cita menjadi sineas dan banting setir bekerja sebagai seorang sales marketing. Tapi pada saat yang bersamaan, Suar dipertemukan oleh buku "Catatan Juang" yang kemudian mengubah hidupnya.

Bukankah memang lebih meyakinkan dan stabil untuk mencari nafkah di sebuah perusahaan? Walau tak jarang apa yang dikerjakan tidak sejalan dengan bidang akademis yang telah ditekuni. Namun di sisi lain, Juang melontarkan berbagai pertanyaan dan menuliskan catatannya yang sedari awal hanya fokus demi menggapai mimpi.

Lain kali, sebelum melakukan sesuatu, coba pikir ulang lagi dan lagi dan lagi; biar apa? Jika alasanmu kuat, lakukanlah. Namun jika itu hanya letupan sesaat, hentikanlah. Karena motivasi menentukan ke mana arah langkah kita selanjutnya. (Juang, hal.30) 


2. Sudut Pandang sebagai Seorang Indonesia

Fiersa Besari menuangkan banyak pemikirannya tentang negeri dan masyarakat Indonesia. Mau setuju atau tidak itu urusan kamu, tapi ada cukup banyak gebrakan pemikiran yang berani dengan lantang ia tuturkan. Pemikirannya ini juga menghantarkan Suar kepada keputusan pembuatan film dokumenter tentang pembangunan pabrik semen di daerah gunung karst. Ini bukan persoalan mudah karena menyangkut kehidupan orang banyak, terutama karena sudut pandang film akan berpengaruh pula pada pendapat dan pemikiran publik. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang sesungguhnya pro pada pembangunan pabrik semen ini?

Entah ini cerita fiksi atau non-fiksi, memang beginilah kehidupan yang terjadi di realita Indonesia: menjaga kekayaan alam atau memilih eksploitasi alam namun menyejahterakan ekonomi daerah? Kita memang bisa berpendapat, bahkan kita juga bisa membuat sebuah foto atau video, tapi pernahkah kita berpikir apa hasil yang diterima untuk orang-orang yang terhakimi?


Kita sering lupa bahwa kita adalah manusia, sama-sama berdarah merah dan sama-sama menghirup oksigen. Kita senantiasa membanggakan daerah dan negara kita; memegang teguh nilai-nilai yang kita yakini; kemudian lupa bahwa kebenaran dan kesalahan selalu mempunyai banyak wajah. Semoga kita bisa lebih banyak menangkap, dan lebih sedikit menghakimi. (Juang, hal.145)



3. Berjuang Menghadapi Ego

Pernah tahu rasanya ditolak? Sudah mati-matian berjuang dan bekerja keras kemudian gagal? Lalu pilihan apa yang kamu lakukan bila gagal? Coba lagi atau malah gengsi? Atau jangan-jangan kamu belum pernah gagal? Jika belum pernah merasakan namanya gagal, hidupmu terlalu lurus kawan.

Di buku ini, Suar mengecap kegagalan setelah berupaya keras dalam film dokumenter bersama kawan-kawannya. Mereka gagal memenangkan kompetisi film pendek yang menjadi jalan untuk mengantar hasil karyanya itu ke ranah publik. Ingatkah akan peribahasa "mati satu, tumbuh seribu"? Kegagalan memang menimbulkan konflik diri, tak mampukah kita atau jangan-jangan ini bukan jalan kita, segala pertanyaan hadir hingga memutuskan untuk berhenti. Hal ini juga dirasakan oleh Suar. Namun setelah pergolakan dengan egonya, ia menemukan cara lain untuk melepas film ini ke khalayak umum, dan ternyata berhasil.

Karena penolakan adalah salah satu bagian dari perjuangan, berusahalah lebih gigih, dan berjuanglah lebih kuat. Jangan jadikan sebuah penolakan alasan untukmu menyerah.... Penolakan adalah hal biasa untuk menempa diri kita menjadi manusia luar biasa. (Juang, hal.162)


4. Kembali ke Titik '0'

Suatu saat kerja keras akan menorehkan prestasi. Kamu akan dijunjung dan akan mendapat tempat di hati masyarakat. Lantas pantaskah larut dalam kemenangan?

Kerja keras Suar mendatangkan keberhasilan, prestasi diukir satu demi satu hingga tawaran menggiurkan datang. Jika saja ia mengubah prinsipnya, mungkin ia akan jatuh dan kemudian dibuang oleh masyarakat. Bukankah begitu pola masyarakat kita kini?

Mempunyai orang-orang yang selalu mendukung dan memberinya tempat untuk bertukar pikiran, membuat Suar selalu mempunyai tempat untuk kembali ke titik '0'. Mulai lagi dari awal, tanpa perlu bermegah dengan segala prestasi yang telah diraih. Hingga iapun memutuskan untuk ikut berbagi, tanpa memikirkan berapa persen yang akan didapat dari hal tersebut.

Apapun yang kamu lakukan, bagikan kebahagiaan untuk orang lain. Jangan disimpan sendiri. (Ayah Suar, hal.272)




Ikut menjelajah pemikiran Fiersa Besari dalam "Catatan Juang" membuka pikiran akan banyak hal. Ada kisah cita, cinta, negara, hingga kehidupan masyarakat dulu dan kini. Mungkin kita sebenarnya banyak setuju dengan pendapatnya, namun terbiasa untuk diam atau ikut saja dengan tren yang ada. Bagaimana bila kita sendiri yang menentukan jalan hidup tanpa harus takut dengan berbagai macam kecaman atau bantahan dari luar?

Bahagia itu kita yang buat. Apakah dengan terus memedulikan kata-kata orang lain, kita bisa jadi lebih bahagia? -emmasabatini-



#review #buku #catatanjuang #fiersabesari #bookreview #Indonesia #karyaanakbangsa

2 comments:

Powered by Blogger.