Kelas Inspirasi Kaimana 2 : Melukis Mimpi di SD YPK Wermenu Papua

October 14, 2017
Kelas Inspirasi Kaimana 2, SD YPK Wermenu (by @abhyduaenam)


Menginjakkan kaki pertama kali di tanah Papua pada Oktober 2017, sejak mimpi menuju Indonesia bagian timur lahir di akhir tahun 2016. Kelas Inspirasi atau yang sering disebut KI (www.kelasinspirasi.org) menjadi jalan saya menuju ke tanah Papua. Memberi inspirasi sekaligus menikmati alam di timur Indonesia. 

Kelas Inspirasi Kaimana 2 diadakan pada tanggal 14 Oktober 2017 dengan tema "Melukis Mimpi di Kaki Gunung Genofa". Tahun ini, kegiatan kelas inspirasi dilaksanakan di Distrik Arguni dengan penempatan di tujuh (7) sekolah. Sekolah tersebut yakni : SD Inpres Tanusan, SD YPK Mandiwa, SD YPK Wermenu, SDN Manggera, SDN Seraran-Sumun, SDN Waromi, SD YPK Manggera (Kampung Jawera).



Saya mendapat kesempatan untuk ikut serta sebagai relawan inspirator, ditempatkan di SD YPK Wermenu bersama 4 relawan inspirator lain (Kak Fanny, Kak Mesi, Kak Herry, Kak Ade), 2 relawan dokumentator (1 fotografer Kak Ulfa & 1 videografer Kak Indah), serta 1 orang fasilitator Kak Ela.


Perjalanan menuju SD YPK Wermenu

13 Oktober 2017. Siang ini matahari tak ingin menampakkan wujudnya, nampak mendung memenuhi Pelabuhan Coa. Berbeda dengan langit, suasana hati para relawan malah ceria. Siap dengan perlengkapannya mengajar di esok hari, sambil bercakap-cakap dengan sesama relawan. Tak lama, hujan datang membasahi Pelabuhan Coa. Padahal usai salat jumat adalah jadwal para relawan Kelas Inspirasi Kaimana 2 berangkat ke sekolah penugasannya masing-masing.

Sempat menunggu hujan deras berakhir di dalam bus, namun hujan tak kunjung henti. Sepertinya sang hujan ingin menyertai perjalanan para relawan. Tak apa. Perjalanan ke sekolah dengan boat dimulai. Kami, yang mendapat penugasan di SD YPK Wermenu berangkat bersama dengan relawan yang bertugas di SDN Manggera. 


Beberapa relawan KI Kaimana 2

Suasana Pelabuhan Coa di kala mendung

Perjalanan dengan boat ditempuh sekitar 2 jam dari Pelabuhan Coa. Sesampainya di dermaga, hari sudah gelap. Ditambah pula dengan keadaan daerah yang hanya memiliki listrik seadanya. Ingin segera menuju sekolah, namun ternyata banyak barang-barang serta bahan makanan milik kelompok lain yang terbawa di boat kami.

Menunggu lama, tak kunjung datang dan waktu semakin malam. Sekitar pk 21.00 WIT, kami melanjutkan perjalanan dengan truk terbuka (losbak) menuju ke sekolah. Habis hujan, jalan becek dan memacu adrenalin kami para relawan! Setelah melewati kurang lebih 30 menit perjalanan, sampailah kami di sekolah dan disambut pula oleh bapak kepala sekolah.


Hari Inspirasi di SD YPK Wermenu

"Wermenu, huha! Wermenu, huha! Wermenu.... Hu... Ha!!"
Yel-yel kelompok SD YPK Wermenu, memberikan semangat pagi bagi para relawan menjelang Hari Inspirasi, Sabtu, 14 Oktober 2017. 

Lagi-lagi hujan datang, untungnya kali ini hanya gerimis. Dari tempat peristirahatan, kami harus berjalan kaki sekitar 15 menit untuk menuju ke SD YPK Wermenu. Ada rasa cemas juga bagi kami, karena satu relawan inspirator belum hadir. Maklum, hujan deras kemarin membuat kami para relawan terpisah di boat. Mudah-mudahan, ia bisa ikut kegiatan bersama kami hari ini.


-SD YPK Wermenu tampak belakang-

Anak-anak berbisik saat kami mulai berjalan menuju ke sekolah. Hari ini sekolah SD YPK Wermenu kedatangan para guru dari luar. Kami, para relawan inspirator dan dokumentator Kelas Inspirasi Kaimana 2 mengemban misi inspirasi di sebuah sekolah Distrik Arguni.

Kegiatan pagi dimulai dengan sambutan dari sekolah dan perkenalan dari para relawan. Untungnya hujan sudah reda ketika kami berkumpul di lapangan. Selain saya, para relawan inspirator datang dari berbagai macam profesi. Ada guru, marketing research, PNS, dan juga arsitek. Sedangkan profesi saya sendiri adalah penerjemah bahasa Korea. 

Anak-anak SD YPK Wermenu mengenakan pakaian pramuka. Namun tak semua murid mengenakan sepatu, masih banyak yang datang ke sekolah tanpa alas kaki. Walau begitu, semangat mereka sangat luar biasa! Karena saat kami mengajak menarikan lagu kekinian yakni 'Baby Shark', tak disangka mereka tidak sungkan untuk bergerak. Oh ya, tak lupa, kami mengajarkan yel-yel kelompok Wermenu.


Berpetualang ke Negeri Gingseng

Waktu yang ditunggu. Saya yang berprofesi sebagai penerjemah Bahasa Korea, mencoba hal yang beda dalam kelas inspirasi ini. Pertama kalinya membawa baju tradisional Korea yaitu hanbok sebagai salah satu bahan ajar. Untuk menyampaikan materi ajar kepada anak-anak terkadang akan menemui kesulitan, apalagi kalau hanya via verbal saja. Maka, alat peraga serta tools perlu digunakan. Sedangkan untuk rombongan belajar kelas bawah, perlu menyiapkan lagu dan gerak yang singkat.

Saya mendapat kelas 5-6, 1-2, dan 3. Setiap masuk ke kelas, saya awali dengan yel-yel SD YPK Wermenu, dan mengajarkan beberapa sapaan dalam bahasa Korea. Setelah itu, mencoba mengenakan hanbok pada salah satu anak. Tak disangka mereka menertawakan satu dan lainnya, ternyata perbedaan masih dianggap aneh oleh mereka. Mereka pikir ini baju pernikahan. Hanbok memang bermacam jenis, tapi yang saya bawa ini bukan untuk menikah, keperluannya sama dengan kebaya atau batik yang biasa dipakai di Indonesia.

Memberikan pemahaman kepada anak-anak serta apresiasi kepada murid yang berani untuk mencoba dengan kata 'bagus' serta tepuk tangan rupanya memberi dampak yang baik untuk lainnya. "Ini kesempatan lho, belum tentu besok-besok bisa coba pakai ini. Ayo siapa lagi yang mau coba pakai?" tambahku agar mereka termotivasi untuk mencoba.


Mencoba hanbok bagian atas pada kelas 1-2

Materi Peta Dunia (by @ulfahmushliha)

Selain hanbok, tentunya saya membawa alat peraga lain. Tidak apa kok membawa peralatan ajar yang banyak, karena kita tidak pernah tahu bagaimana kelas yang akan kita temui. Yang penting, cepat tanggap pada keadaan kelas dan buatlah semenarik mungkin! 

Nah, saya juga membawa peta dunia dan boneka Korea. Saya bukan ingin berjualan tentang Korea. Tapi saya mencoba memberikan petualangan bagi anak agar merasakan dunia di luar lingkungannya sendiri. Salah satunya lewat belajar bahasa asing. Bahwa belajar bahasa asing juga bisa menuntun kita melihat dan berkenalan dengan orang maupun budaya yang berbeda. Sama halnya dengan belajar bahasa Inggris, bahasa internasional.


Penutup Hari Inspirasi


Melukis mimpi di sebuah daun (@ulfahmushliha)

Kegiatan Hari Inspirasi di SD YPK Wermenu ditutup dengan menuliskan nama serta cita-cita yang mereka inginkan dalam sebuah daun. Mungkin cita-cita mereka sekarang dengan saat beranjak dewasa dapat berubah. Tapi setidaknya tulisan yang terpatri di pohon cita-cita tak akan lekang oleh waktu. Entah apa pilihan mereka nanti, semoga tulisan ini menjadi penyemangat dan pengingat bahwa dulu saya pernah bermimpi demikian. Apakah mimpi tersebut akan terlaksana? Itu tergantung dari si anak sendiri, asal terus melakukan pergerakan berkelanjutan, bukan hanya diam.

Sebelum meninggalkan sekolah, kami berpamitan dengan anak-anak, kepala sekolah,dan guru. Mayoritas anak-anak di sekolah pemalu, kecuali kelas 1-2 yang sangat penasaran dan berani menyuarakan pendapatnya. Tak masalah datang sekolah tanpa alas kaki, tak masalah juga bila tak punya tas sekolah, karena bukankah tujuan utama sekolah untuk mengisi pengetahuan?

Terima kasih Kelas Inspirasi Kaimana 2. Selamat belajar dan bermimpilah, anak-anak SD YPK Wermenu!




Para relawan, fasilitator, guru dan kepala sekolah


Sebuah video karya relawan videografer kami, Kelas Inspirasi Kaimana 2 di SD YPK Wermenu, Distrik Arguni Bawah, Kaimana, Papua Barat.
by @abhyduaenam


Nah, penasaran tempat-tempat apa yang bisa dijelajahi di Kota Senja ini? Simak di link berikut ya!

14 Oktober 2017. Kelas Inspirasi Kaimana 2
#catatanperjalanan #emmasabatini #kontribusiuntukIndonesia #kelasinpirasikaimana #kikaimana


No comments:

Powered by Blogger.